Surabaya, 15 Maret 2026 – tinusajatim.org Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Trinusa DPC Surabaya menyoroti dugaan keteledoran tim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Simokerto dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Sorotan ini muncul setelah adanya temuan buah jambu berulat yang dibagikan kepada siswa di SDN Kapasan V, Kecamatan Simokerto, Surabaya.
Hal tersebut terungkap setelah LSM Trinusa menerima aduan dari seorang awak media online berinisial SA yang menyampaikan keluh kesahnya saat mendatangi kantor LSM Trinusa DPC Surabaya pada Minggu (15/3/2026).
Ketua LSM Trinusa Surabaya, Mulyadi, menilai pihak SPPG Simokerto kurang teliti dalam melakukan pengawasan kualitas makanan sebelum dibagikan kepada para siswa.
“Kami sangat prihatin atas kejadian ini. Seharusnya setiap buah atau makanan yang akan dikonsumsi siswa diperiksa terlebih dahulu kelayakan dan kesegarannya. Jangan sampai diberikan begitu saja tanpa memastikan kondisinya layak konsumsi,” tegas Mulyadi saat ditemui di kantor LSM Trinusa Surabaya.
Menurutnya, pada awal pelaksanaan program MBG kualitas makanan yang disajikan dinilai cukup baik. Namun, dalam beberapa waktu terakhir pihaknya menemukan adanya penurunan kualitas, seperti buah pisang dan jambu yang tidak layak konsumsi.
“Memang pihak SPPG sempat mengganti makanan yang rusak, tetapi kejadian serupa terjadi berulang. Ini menunjukkan adanya keteledoran yang harus segera dievaluasi,” tambahnya.
Sementara itu, pihak SDN Kapasan V membenarkan adanya temuan jambu berulat yang sempat dibagikan kepada siswa. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (3/3/2026), ketika paket MBG berisi telur rebus pecah, roti, kelengkeng, dan buah jambu.
“Memang beberapa waktu lalu ada temuan buah jambu yang terdapat ulatnya,” ungkap Zainal, bagian Kesiswaan SDN Kapasan V, Senin (9/3/2026).
Lebih lanjut, pihak sekolah melalui kepala sekolah juga mengaku telah dua kali memberikan teguran kepada tim SPPG Simokerto terkait kualitas makanan yang disajikan kepada siswa. Teguran itu diberikan setelah beberapa kali ditemukan buah maupun makanan yang tidak layak konsumsi.
Meski teguran telah disampaikan, permasalahan serupa disebut masih terjadi sehingga menimbulkan keresahan di kalangan guru maupun orang tua siswa.
Atas kejadian tersebut, LSM Trinusa meminta Dinas Kesehatan Kota Surabaya, tim pengawas gizi dari puskesmas, serta kader kesehatan masyarakat untuk turun langsung melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah Simokerto.
“Ini merupakan program Presiden RI yang tujuannya sangat baik untuk meningkatkan gizi anak-anak. Jangan sampai amanah tersebut tercoreng hanya karena lemahnya pengawasan di lapangan,” ujar Mulyadi.
Selain itu, LSM Trinusa DPC Surabaya juga menegaskan akan segera menindaklanjuti persoalan ini dengan menyampaikan laporan serta melakukan koordinasi kepada dinas terkait, agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah Simokerto.
LSM Trinusa menegaskan bahwa pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses penerimaan bahan makanan, pengolahan, hingga penyajian kepada siswa. Dengan pengawasan yang maksimal, kualitas makanan dapat terjamin dan tujuan program MBG untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah dapat benar-benar tercapai.